Ironi Ngada: Miskin Secara Data, Tapi Stok Pangan Tetap Aman

Ironi Ngada: Miskin Secara Data, Tapi Stok Pangan Tetap Aman

Ironi Ngada: Miskin Secara Data, Tapi Stok Pangan Tetap Aman Yang Telah Di Katakan Langsung Oleh Bupati Mereka. Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali menjadi sorotan publik. Tentunya setelah pernyataan Bupati Raymundus Bena terkait masih tingginya angka kemiskinan ekstrem di wilayahnya. Pernyataan tersebut di sampaikan menyusul kasus meninggalnya YBS (10). Karena terdapat siswa kelas IV sekolah dasar di Kecamatan Jerebuu. Dan yang menggugah empati banyak pihak. Tragedi ini membuka kembali diskusi panjang tentang kemiskinan. Kemudian dengan akses pendidikan, serta realitas sosial yang di hadapi masyarakat di daerah. YBS di kabarkan sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku. Dan pulpen sebelum kejadian nahas itu dari Ironi Ngada tersebut. Namun, keterbatasan ekonomi keluarga membuat permintaan sederhana tersebut tak dapat di penuhi.  Terlebihnya dalam hal akses terhadap kebutuhan dasar non-pangan seperti pendidikan yang jadi sebuah Ironi Ngada.

Bupati Ngada Akui Kemiskinan Ekstrem Masih Nyata

Bupati Ngada Raymundus Bena secara terbuka mengakui bahwa kemiskinan ekstrem masih menjadi persoalan serius di kabupaten yang di pimpinnya. Ia merujuk pada data statistik resmi yang menunjukkan masih banyak warga hidup dalam keterbatasan ekonomi. “Ya, kalau untuk kemiskinan kita ini kan dari data statistik itu ada,” ujar Raymundus. Pernyataan ini menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak menutup mata terhadap kondisi sosial masyarakatnya. Data kemiskinan tersebut menjadi pijakan. Tentunya bagi pemerintah daerah dalam menyusun berbagai kebijakan dan program penanggulangan. Namun, Raymundus juga menekankan pentingnya melihat kondisi masyarakat secara utuh. Dan tidak hanya dari angka statistik semata. Menurutnya, realitas di lapangan memiliki banyak lapisan yang perlu di pahami dengan lebih jernih.

Kasus YBS Jadi Cermin Ketimpangan Akses Pendidikan

Kematian YBS menjadi pengingat pahit bahwa kemiskinan ekstrem tidak selalu berkaitan dengan kelaparan. Akan tetapi juga menyangkut keterbatasan akses terhadap kebutuhan dasar lainnya. Permintaan YBS untuk membeli buku dan pulpen menunjukkan bahwa biaya pendidikan. Karena sekecil apa pun, masih menjadi beban bagi sebagian keluarga di Ngada. Kasus ini memicu keprihatinan publik karena menggambarkan bagaimana keterbatasan ekonomi dapat berdampak langsung pada masa depan anak-anak. Pendidikan, yang seharusnya menjadi jalan keluar dari lingkaran kemiskinan. Serta yang justru terhambat oleh kondisi ekonomi keluarga. Peristiwa ini juga memunculkan pertanyaan tentang sejauh mana sistem perlindungan sosial telah menjangkau keluarga-keluarga paling rentan. Dan khususnya di wilayah terpencil.

Stok Pangan Aman, Uang Tunai Jadi Masalah

Menariknya, di tengah pengakuan soal kemiskinan ekstrem, Bupati Raymundus menilai bahwa secara umum masyarakat Ngada tidak mengalami kekurangan pangan. Ia menyebut stok makanan dan minuman masih cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Kalau soal makan dan minum, saya rasa tidak menjadi masalah. Kita boleh tidak punya uang. Akan tetapi untuk stok makan dan minum itu ini cukup bagi masyarakat,” jelasnya. Pernyataan ini menggambarkan karakteristik kemiskinan di Ngada. Terlebih yang berbeda dengan wilayah perkotaan. Banyak warga masih mengandalkan hasil kebun dan pertanian subsisten untuk memenuhi kebutuhan pangan. Namun, keterbatasan uang tunai membuat mereka kesulitan memenuhi kebutuhan lain seperti pendidikan, kesehatan. Dan perlengkapan sekolah. Inilah ironi yang muncul: pangan tersedia. Akan tetapi daya beli dan akses terhadap layanan dasar masih terbatas.

Program PIP Dan Tantangan Implementasi Di Daerah

Terkait pembiayaan pendidikan bagi siswa kurang mampu, Raymundus menegaskan bahwa sejak dirinya di lantik sebagai bupati. Kemudian pemerintah daerah telah memiliki kebijakan melalui Program Indonesia Pintar (PIP) yang di anggarkan lewat APBD. Program ini di tujukan untuk membantu siswa. Tentunya dari keluarga kurang mampu agar tetap bisa mengenyam pendidikan. Kebijakan tersebut menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung akses pendidikan.

Namun, kasus YBS menjadi sinyal bahwa implementasi program masih menghadapi tantangan. Baik dari sisi pendataan, penyaluran, maupun jangkauan ke wilayah terpencil. Peristiwa ini di harapkan menjadi momentum evaluasi bagi semua pihak, baik pemerintah daerah, pusat, maupun masyarakat. Terlebihnya untuk memperkuat sistem perlindungan sosial. Kemiskinan ekstrem di Ngada bukan hanya soal statistik. Akan tetapi tentang kehidupan nyata warga yang membutuhkan perhatian berkelanjutan dan solusi yang lebih tepat sasaran.

Jadi itu dia beberapa fakta mengenai data tentang miskin ekstrem yang di katakan oleh Bupati mereka bahwa stok makanan cukup terkait Ironi Ngada.