
Haji Her Skakmat Tudingan Cari Untung: Saya Sudah Kaya!
Haji Her Skakmat Tudingan Cari Untung: Saya Sudah Kaya Dengan Menjawab Tuduhan Mencari Untung Di Program MBG. Nama Khairul Umam, yang lebih di kenal publik sebagai Haji Her, kembali mencuri perhatian. Pemilik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pangeleyan di Kecamatan Tanah Merah, Kabupaten Bangkalan. Dan ini sebelumnya viral karena membagikan uang Rp50.000 kepada ribuan penerima ompreng. Kini, sorotan mengarah pada langkah lanjutan yang tak kalah mengejutkan. Dan membangun rumah warga yang rusak dari hasil Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di dapurnya.
Pernyataan tegas Haji Her di sampaikan saat menghadiri peresmian dan groundbreaking SPPG Polri. Serta sekaligus peresmian gudang ketahanan pangan di Bangkalan. Di hadapan publik, ia menepis tudingan mencari keuntungan pribadi dari program MBG. Bahkan, ia menegaskan tidak akan mengambil bagi hasil yang sebenarnya menjadi hak pengelola. Sikap ini memantik diskusi luas antara keteladanan, tata kelola program. Dan dampak sosial nyata bagi warga. Berikut tiga fakta terkini yang merangkum sikap dan langkahnya.
Dana MBG Di Alihkan Untuk Rumah Warga Tak Layak Huni
Fakta pertama yang paling menyedot perhatian adalah Dana MBG Di Alihkan Untuk Rumah Warga Tak Layak Huni. Ia menyatakan secara terbuka bahwa jika ada sisa atau hasil dari pengelolaan dapur MBG, tidak akan ia minta. Sebaliknya, dana tersebut akan di manfaatkan untuk memperbaiki rumah warga Bangkalan yang tidak layak huni. Transisi dari wacana ke aksi ini menjadi penting. Baginya, MBG bukan sekadar program distribusi makanan. Namun melainkan instrumen gotong royong. Dengan mengarahkan manfaat ekonomi ke perbaikan rumah, ia ingin memastikan bahwa efek MBG terasa lebih luas. Dan tidak hanya pada asupan gizi siswa, tetapi juga pada kualitas hidup keluarga di sekitarnya. Langkah ini sekaligus menjawab keraguan publik soal transparansi. Alih-alih memperkaya diri, ia memilih meningkatkan aset sosial masyarakat. Pernyataan “bukan mencari uang” yang ia ulangi mempertegas garis sikap tersebut.
Menolak Keuntungan Pribadi Dan Bagi Hasil
Fakta kedua menyangkut Menolak Keuntungan Pribadi Dan Bagi Hasil yang sebenarnya sudah di tentukan dalam skema pengelolaan. Ia menyebutkan secara lugas bahwa dirinya tidak akan mengambilnya. Pernyataan “uang saya sudah banyak” memang terdengar provokatif. Namun konteksnya jelas: menutup ruang prasangka bahwa MBG di jadikan ladang cuan. Transisi ke tata kelola program terlihat dari pesan moral yang ia sampaikan. Menurutnya, setiap petugas sudah memiliki komisi masing-masing. Karena itu, mengambil keuntungan di luar haknya adalah haram. Penegasan ini bukan hanya di tujukan ke publik. Namun melainkan juga ke internal pengelola SPPG agar disiplin mematuhi aturan. Dengan sikap ini, ia mendorong standar etika yang lebih tinggi dalam implementasi program sosial. Bukan sekadar patuh administrasi. Akan tetapi juga integritas personal.
Peringatan Keras: Porsi Dan Kualitas MBG Tak Boleh Di Kurangi
Fakta ketiga yang tak kalah penting adalah Peringatan Keras: Porsi Dan Kualitas MBG Tak Boleh Di Kurangi. Ia meminta agar porsi dan kualitas MBG tidak di kurangi dalam kondisi apa pun. Makanan yang di sajikan kepada siswa, tegasnya, harus sesuai anggaran yang telah di tetapkan. Transisi dari niat baik ke pelaksanaan teknis sering menjadi titik rawan program. Haji Her tampak memahami itu. Karena itulah ia menekankan bahwa hak penerima tidak boleh di kurangi, dan kualitas gizi harus di jaga. Pesan ini menempatkan penerima manfaat para siswa. Tentunya ebagai pusat kebijakan, bukan sekadar objek laporan. Penegasan tersebut sekaligus menjadi standar operasional moral.
Karena program sosial harus tepat sasaran, bermutu, dan berkelanjutan. Tanpa kompromi. Rangkaian pernyataan dan tindakannya menempatkannya di persimpangan sorotan publik. Di satu sisi, ada skeptisisme yang wajar; di sisi lain, ada aksi konkret yang bisa di verifikasi dampaknya. Dengan mengalihkan potensi hasil MBG untuk rumah warga. Kemudian menolak keuntungan pribadi, serta menjaga mutu layanan. Ia mencoba “skakmat” tudingan cari untung lewat kerja nyata. Pada akhirnya, publik akan menilai dari konsistensi. Namun untuk saat ini, langkah-langkah tersebut menunjukkan satu pesan kuat: program sosial harus berangkat dari niat. Dan di jaga dengan integritas, dan di akhiri dengan manfaat nyata bagi warga dari skakmatannya Haji Her.