Universitas ITB Kembangkan Drone Pemantau Karhutla

Universitas ITB Kembangkan Drone Pemantau Karhutla

Universitas ITB kembali menunjukkan perannya sebagai pelopor inovasi teknologi di Indonesia. Dalam menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus berulang setiap tahun, tim peneliti dari Fakultas Teknik Dirgantara ITB berhasil mengembangkan drone canggih untuk memantau dan mendeteksi titik api secara real-time. Proyek ini merupakan hasil kolaborasi antara ITB, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Drone ini dilengkapi dengan berbagai sensor canggih, seperti kamera termal, sensor gas, serta sistem navigasi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang mampu menganalisis area rawan karhutla. Teknologi ini memungkinkan deteksi dini terhadap titik panas (hotspot) yang bisa berkembang menjadi kebakaran hutan. Dalam konferensi pers di Bandung, Kepala Tim Peneliti, Dr. Fadillah Ananta, menyampaikan bahwa drone ini mampu terbang hingga radius 20 km dengan daya jelajah selama 3 jam non-stop, membuatnya ideal untuk wilayah hutan yang sulit dijangkau secara manual.

Inovasi ini lahir dari keprihatinan atas dampak buruk karhutla, terutama di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Asap yang dihasilkan dari kebakaran tak hanya merusak lingkungan, tapi juga menyebabkan gangguan kesehatan serius hingga lintas negara. Dengan adanya drone ini, pemantauan bisa dilakukan lebih efisien dan data yang dikumpulkan bisa langsung dikirim ke pusat pengendalian karhutla dalam waktu nyata.

Universitas ITB dengan pengembangan drone ini juga didukung oleh pendanaan dari Program Inovasi Nasional yang diselenggarakan oleh Kementerian Riset dan Teknologi. Diharapkan dalam waktu dekat, uji coba lapangan skala besar dapat dilakukan di lahan gambut di Riau, yang selama ini menjadi salah satu wilayah paling rentan terhadap karhutla. ITB pun terbuka terhadap kerja sama dengan pemerintah daerah serta pihak swasta untuk memperluas implementasi teknologi ini di berbagai kawasan rawan.

Teknologi Di Balik Drone: Kamera Termal Dan AI Jadi Kunci

Teknologi Di Balik Drone: Kamera Termal Dan AI Jadi Kunci tidak hanya sekadar alat terbang biasa. Di balik bentuk fisiknya yang ramping dan ringan, tersembunyi teknologi canggih yang memungkinkan pemantauan kondisi hutan secara presisi. Salah satu komponen utama adalah kamera termal resolusi tinggi yang dapat menangkap suhu permukaan tanah secara detail, bahkan di malam hari atau saat cuaca berkabut.

Kamera termal ini bekerja dengan prinsip inframerah, yang mampu membedakan antara suhu normal dan suhu panas yang timbul akibat pembakaran. Ketika titik api muncul, kamera akan mendeteksi perbedaan suhu tersebut dan menandainya sebagai area berpotensi bahaya. Data ini kemudian dikombinasikan dengan sensor gas karbon monoksida dan karbon dioksida, dua gas yang biasanya muncul saat ada kebakaran organik seperti hutan atau lahan gambut.

Kekuatan utama drone ini juga terletak pada integrasi kecerdasan buatan (AI) yang dikembangkan khusus oleh tim ITB. AI digunakan untuk memproses data secara cepat dan mengenali pola dari potensi kebakaran. Sistem ini dilatih menggunakan ribuan citra dan data dari kejadian karhutla sebelumnya. Dengan teknologi ini, drone mampu memberi peringatan dini jika mendeteksi kondisi yang berisiko tinggi, bahkan sebelum api benar-benar terlihat.

Tak hanya itu, drone ini juga dibekali dengan sistem pemetaan berbasis GPS dan GIS (Geographic Information System). Sistem ini memungkinkan operator untuk mengetahui lokasi persis titik api, serta memberikan informasi tentang arah angin, kelembaban udara, dan kecepatan penyebaran api. Semua informasi ini sangat vital dalam pengambilan keputusan taktis oleh tim pemadam di lapangan.

Tim ITB juga memastikan bahwa teknologi ini ramah lingkungan dan hemat energi. Drone ditenagai oleh baterai lithium-ion berkapasitas tinggi yang bisa diisi ulang dengan panel surya. Ini menjadikan drone dapat beroperasi dalam waktu lama tanpa ketergantungan pada bahan bakar fosil. Dengan seluruh teknologi ini, ITB berharap drone dapat menjadi standar baru dalam sistem deteksi karhutla nasional.

Kolaborasi Universitas ITB Dengan Pemerintah Dan Potensi Implementasi Di Lapangan

Kolaborasi Universitas ITB Dengan Pemerintah Dan Potensi Implementasi Di Lapangan tak lepas dari sinergi kuat dengan berbagai instansi pemerintah. Sejak awal proyek ini, pihak ITB telah menjalin kerja sama erat dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), serta beberapa pemerintah daerah yang rawan kebakaran hutan seperti Riau, Jambi, dan Kalimantan Tengah.

Menurut Deputi Pencegahan BNPB, teknologi seperti drone pemantau ini sangat dibutuhkan mengingat keterbatasan dalam pengawasan langsung di lapangan. Selama ini, pemantauan titik api mengandalkan citra satelit yang sering kali mengalami keterlambatan dan terganggu oleh tutupan awan. Dengan drone, pengawasan bisa dilakukan lebih cepat dan akurat. Bahkan, dalam beberapa kasus, drone bisa membantu mengarahkan tim pemadam ke lokasi yang tepat.

Pemerintah juga menyambut baik potensi penggunaan drone ini untuk program pencegahan karhutla berbasis masyarakat. Melalui pelatihan yang difasilitasi oleh ITB, para petugas lapangan seperti Manggala Agni maupun relawan desa bisa diajarkan cara menggunakan dan memelihara drone. Ini akan mempercepat proses deteksi dan respons tanpa harus menunggu instruksi dari pusat.

Uji coba awal telah dilakukan di wilayah Kabupaten Pelalawan, Riau, dan menunjukkan hasil memuaskan. Drone berhasil mengidentifikasi titik api kecil di area kebun kering yang sebelumnya luput dari pengawasan. Setelah itu, tim pemadam segera turun dan berhasil memadamkan sebelum kebakaran meluas. Keberhasilan ini membuka peluang untuk memperluas penggunaan drone ke wilayah lain dalam waktu dekat.

Kolaborasi dengan sektor swasta juga mulai dijajaki. Beberapa perusahaan perkebunan besar tertarik untuk mengadopsi teknologi ini dalam sistem pengawasan internal mereka. Hal ini bisa menjadi langkah strategis untuk mendorong tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan, sekaligus mendukung upaya pemerintah dalam menekan angka karhutla tahunan.

Harapan Ke Depan: Menuju Indonesia Bebas Karhutla Dengan Inovasi Lokal

Harapan Ke Depan: Menuju Indonesia Bebas Karhutla Dengan Inovasi Lokal, harapan baru untuk mengatasi bencana kebakaran hutan dan lahan di Indonesia mulai tumbuh. Selama ini, Indonesia kerap menjadi sorotan dunia akibat kabut asap lintas negara yang dihasilkan oleh karhutla tahunan. Inovasi ini menjadi langkah konkret menuju pengelolaan sumber daya alam yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Rektor ITB, Prof. Reini Wirahadikusumah, menyampaikan bahwa pengembangan teknologi ini sejalan dengan visi ITB sebagai institusi yang tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga kontribusi langsung terhadap tantangan nyata yang dihadapi bangsa. Beliau menegaskan bahwa keberhasilan ini hanyalah permulaan, karena riset lebih lanjut terus dilakukan untuk menyempurnakan fitur dan efisiensi drone.

Dalam jangka panjang, ITB berencana menciptakan pusat riset teknologi pemantauan lingkungan berbasis drone yang bisa digunakan untuk berbagai kebutuhan, seperti pengawasan banjir, pemantauan illegal logging, hingga pencarian korban bencana. Harapannya, teknologi ini tidak hanya menjadi solusi karhutla, tetapi juga menjadi bagian dari sistem mitigasi bencana terpadu nasional.

Masyarakat pun mulai menunjukkan ketertarikan terhadap teknologi ini. Di beberapa desa binaan ITB, sosialisasi mengenai manfaat penggunaan drone dalam deteksi kebakaran sudah dilakukan. Respons yang diterima cukup positif. Banyak warga yang berharap teknologi ini bisa menekan kerugian ekonomi dan kesehatan akibat asap yang selama ini menjadi langganan tahunan.

Melalui semangat kolaborasi, inovasi, dan keberpihakan pada lingkungan, ITB menegaskan. Komitmennya untuk terus menjadi bagian dari solusi terhadap tantangan besar bangsa. Drone pemantau karhutla bukan hanya simbol kecanggihan teknologi, tetapi juga harapan untuk masa depan Indonesia. Yang lebih hijau, sehat, dan bebas dari bencana ekologis yang bisa dicegah sejak dini bagi harapan Universitas ITB.