Psikolog: Jangan Remehkan Perasaan "Tak Di Anggap" Pada Anak

Psikolog: Jangan Remehkan Perasaan “Tak Di Anggap” Pada Anak

Psikolog: Jangan Remehkan Perasaan “Tak Di Anggap” Pada Anak Karena Ia Akan Merasa Kecil Hati Dan Minder Terhadapnya. Dalam keseharian, orang tua dan orang dewasa seringkali menilai masalah anak sebagai sesuatu yang sepele. Dan tangisan di anggap berlebihan, keluhan di nilai manja, atau pendapat anak di pandang belum penting. Tanpa di sadari, sikap tersebut dapat memunculkan perasaan “tak di anggap” pada anak. Menurut Psikolog, perasaan ini bukan hal kecil. Karena dapat memengaruhi perkembangan emosi dan kepribadian anak dalam jangka panjang. Perasaan tidak di anggap biasanya muncul ketika anak merasa keberadaannya di abaikan. Dan pendapatnya tidak di dengar, atau emosinya tidak di validasi. Meski tampak sederhana, kondisi ini bisa meninggalkan luka psikologis yang terbawa hingga dewasa. Oleh sebab itu, memahami fakta-fakta terkait perasaan ini menjadi langkah awal untuk mencegah dampak yang lebih serius menurut Psikolog.

Perasaan “Tak Di Anggap” Bisa Mengganggu Perkembangan Emosi Anak

Pakarnya menjelaskan bahwa Perasaan “Tak Di Anggap” Bisa Mengganggu Perkembangan Emosi Anak. Mereka kesulitan mengenali dan mengekspresikan perasaan karena sejak awal emosinya tidak pernah di respons dengan tepat. Akibatnya, anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang menutup diri atau justru meluapkan emosi secara berlebihan. Pada fase perkembangan, anak membutuhkan validasi untuk memahami bahwa apa yang ia rasakan itu nyata dan wajar. Ketika orang tua atau lingkungan menyepelekan perasaan tersebut. Dan anak belajar bahwa emosinya tidak penting. Transisi ini sering terjadi tanpa di sadari. Tentunya dalam pola asuh yang terlalu menuntut atau minim komunikasi. Dalam jangka panjang, gangguan emosi ini dapat memengaruhi rasa percaya diri. Anak mungkin merasa dirinya tidak berharga atau takut mengungkapkan pendapat. Hal ini berpotensi menghambat kemampuan sosialnya. Baik di sekolah maupun di lingkungan pertemanan.

Dampak Psikologis Yang Bisa Terbawa Hingga Dewasa

Fakta lain yang perlu di perhatikan adalah Dampak Psikologis Yang Bisa Terbawa Hingga Dewasa. Menurut psikolog, pengalaman emosional yang berulang dapat membentuk pola pikir dan respons anak saat dewasa. Anak yang tumbuh dengan perasaan di abaikan cenderung membawa luka emosional tersebut ke dalam hubungan sosial dan profesionalnya. Mereka bisa berkembang menjadi pribadi yang terlalu mencari pengakuan, atau sebaliknya. Maka yang menjadi individu yang selalu mengalah dan sulit menetapkan batasan. Dalam beberapa kasus, perasaan ini juga di kaitkan dengan meningkatnya risiko kecemasan dan depresi di kemudian hari. Lebih jauh, anak yang merasa tidak dianggap sering mengalami kesulitan membangun kelekatan emosional yang sehat. Mereka mungkin takut di tolak atau tidak di dengar. sehingga memilih untuk menyimpan perasaan sendiri. Pola ini dapat memengaruhi kualitas hubungan dengan pasangan. Dan juga dengan rekan kerja, maupun keluarga di masa depan.

Pentingnya Peran Orang Tua Dalam Memvalidasi Perasaan Anak

Melihat besarnya dampak tersebut, mereka menekankan Pentingnya Peran Orang Tua Dalam Memvalidasi Perasaan Anak. Validasi bukan berarti selalu menyetujui perilaku anak. Namun melainkan mengakui bahwa perasaannya nyata dan layak di dengar. Kalimat sederhana seperti “Mama mengerti kamu sedih” atau “Wajar kalau kamu merasa kecewa” dapat memberikan efek positif yang besar. Selain itu, membangun komunikasi dua arah menjadi kunci utama. Anak perlu di beri ruang untuk berbicara tanpa takut di hakimi. Dengan begitu, mereka belajar bahwa menyampaikan perasaan adalah hal yang aman dan sehat. Transisi dari pola asuh otoriter ke pola asuh yang lebih empatik. Tentunya dapat membantu anak tumbuh dengan kepercayaan diri yang lebih kuat.

Pakarnya juga menyarankan agar orang tua peka terhadap sinyal nonverbal anak. Tidak semua anak mampu mengungkapkan perasaan lewat kata-kata. Perubahan perilaku, penurunan semangat, atau sikap menarik diri bisa menjadi tanda bahwa anak merasa tidak di perhatikan. Sebagai penutup, perasaan “tak di anggap” pada anak bukanlah persoalan sepele. Ia adalah sinyal penting tentang kebutuhan emosional yang belum terpenuhi. Dengan mendengarkan, memahami, dan memvalidasi perasaan anak,. Maka orang tua turut membangun fondasi kesehatan mental yang kuat. Pada akhirnya, anak yang merasa di anggap akan tumbuh menjadi individu yang lebih percaya diri. Kemudian dengan empatik, dan siap menghadapi tantangan hidup yang di sarankan Psikolog.