Hujan Ekstrem Lumpuhkan Jakarta, RTH Jadi Sorotan

Hujan Ekstrem Lumpuhkan Jakarta, RTH Jadi Sorotan

Hujan Ekstrem Lumpuhkan Jakarta, RTH Jadi Sorotan Yang Menurut Pengamatan Pakar Sebaiknya Ada Pengkajian Ulang. Hujan Ekstrem kembali melumpuhkan Jakarta. Dalam beberapa hari terakhir, curah hujan tinggi menyebabkan genangan meluas di sejumlah ruas jalan, permukiman, hingga kawasan bisnis. Aktivitas warga terganggu, mobilitas tersendat. Dan juga dengan risiko banjir kembali menghantui ibu kota. Di tengah kondisi ini, perhatian publik dan para pakar kembali tertuju pada Ruang Terbuka Hijau (RTH). Terlebih yang di nilai belum berfungsi optimal sebagai penyangga lingkungan. Fenomena Hujan Ekstrem memang tidak bisa di hindari sepenuhnya. Namun, para ahli sepakat bahwa dampaknya bisa ditekan jika tata kota. Tentunya pada pengelolaan RTH, di rancang dengan pendekatan yang lebih adaptif dan berkelanjutan.

Hujan Terus-Menerus Picu Genangan Dan Gangguan Aktivitas Warga

Fakta pertama yang terlihat jelas adalah meningkatnya intensitas hujan yang turun dalam waktu relatif singkat. Air hujan dengan volume besar tidak sepenuhnya tertampung oleh sistem drainase yang ada. Sehingga menyebabkan genangan di banyak titik. Beberapa kawasan yang sebelumnya jarang terdampak kini ikut terendam. Kemudian menandakan adanya perubahan pola hujan dan daya dukung lingkungan. Kemacetan parah, aktivitas perkantoran terganggu, hingga keterlambatan transportasi umum menjadi dampak langsung yang di rasakan warga. Situasi ini kembali menegaskan bahwa Jakarta masih rentan terhadap hujan ekstrem. Terutama ketika sistem resapan air tidak bekerja maksimal.

Ruang Terbuka Hijau Di Nilai Belum Optimal Menyerap Air

Sorotan kemudian mengarah pada kondisi Ruang Terbuka Hijau Jakarta. Secara kuantitas, RTH memang ada, namun secara kualitas dan fungsi ekologis. Karena masih banyak yang di nilai belum maksimal. Sejumlah taman kota lebih berorientasi pada estetika. Tentunya dengan dominasi paving dan permukaan keras, sehingga daya serap air menjadi terbatas. Pakar lingkungan menyebut bahwa RTH seharusnya berfungsi sebagai area resapan alami, bukan sekadar ruang hijau visual. Tanah yang padat, minim vegetasi berakar dalam. Serta alih fungsi lahan membuat kemampuan RTH menahan limpasan air hujan semakin berkurang. Akibatnya, air langsung mengalir ke saluran yang sudah kewalahan.

Pakar Singgung Perlunya Penataan Ulang RTH Jakarta

Fakta penting lainnya datang dari pandangan para pakar tata kota dan hidrologi. Mereka menilai penataan ulang RTH menjadi kebutuhan mendesak, bukan sekadar wacana jangka panjang. RTH ideal tidak hanya tersebar merata. Akan tetapi juga di rancang sebagai bagian dari sistem pengendalian air perkotaan. Penataan ulang yang di maksud mencakup peningkatan kualitas tanah, penanaman vegetasi yang mampu menyerap air dalam jumlah besar. Serta integrasi RTH dengan sistem drainase alami. Pakar juga menekankan pentingnya mengembalikan fungsi lahan-lahan tertentu sebagai ruang hijau aktif.  Terutama di wilayah rawan genangan. Menurut mereka, memperluas RTH tanpa memperbaiki fungsinya hanya akan menghasilkan ruang hijau “kosmetik”. Terlebih yang minim dampak terhadap pengurangan banjir.

RTH Bukan Solusi Tunggal, Tapi Kunci Adaptasi Iklim Kota

Meski RTH bukan satu-satunya solusi, para ahli sepakat bahwa ruang hijau memiliki peran kunci dalam adaptasi perubahan iklim di perkotaan. Selain menyerap air, RTH membantu menurunkan suhu, memperbaiki kualitas udara. Dan juga yang menjaga keseimbangan ekosistem kota. Jakarta di nilai perlu menggeser pendekatan pembangunan dari sekadar reaktif menjadi preventif. Artinya, bukan hanya mengatasi genangan saat hujan datang. Akan tetapi membangun kota yang lebih siap menghadapi cuaca ekstrem. Penataan ulang RTH menjadi salah satu fondasi penting dalam strategi tersebut. Kemudian berdampingan dengan perbaikan drainase dan pengendalian alih fungsi lahan.

Hujan terus-menerus yang kembali melumpuhkan Jakarta menjadi alarm keras bahwa tantangan lingkungan semakin nyata. Sorotan terhadap Ruang Terbuka Hijau bukan tanpa alasan. Namun melainkan refleksi dari kebutuhan mendesak untuk menata ulang kota. Tentunya agar lebih tahan terhadap perubahan iklim. Jika RTH di kelola dengan tepat dan fungsional, dampak hujan ekstrem tidak harus selalu berujung pada lumpuhnya aktivitas kota. Momentum ini seharusnya menjadi titik evaluasi serius bagi Jakarta untuk berbenah. Namun bukan hanya hijau di mata, tetapi kuat menghadapi cuaca ekstrem di masa depan.

Jadi itu dia beberapa fakta mengenai singgungan pakar mengenai RTH yang mereka sorot karena belum maksimal menyerap air mengingat di bantai oleh Hujan Ekstrem.