
Sinergi Polbangtan Kementan Dan BP Sumut
Sinergi Polbangtan Kementan yang berada di bawah naungan Kementerian Pertanian (Kementan) kembali menegaskan komitmennya dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) di sektor pertanian. Komitmen ini diperkuat melalui kerja sama strategis dengan Balai Penyuluhan (BP) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) yang mencakup berbagai program pelatihan, pendidikan vokasi, serta pengembangan kapasitas kelembagaan pertanian. Kerja sama ini diyakini dapat menjadi solusi atas permasalahan rendahnya regenerasi petani dan kualitas penyuluhan yang belum optimal di tingkat tapak.
Tujuan utama dari sinergi ini adalah menyatukan kekuatan kelembagaan pendidikan dan penyuluhan untuk memperkuat kompetensi petani serta mencetak generasi baru yang mampu menjawab tantangan pertanian modern. Kolaborasi ini memungkinkan terjadinya pertukaran ilmu, praktik terbaik, dan inovasi yang berbasis teknologi untuk diterapkan secara langsung di lapangan.
Langkah awal yang telah dilakukan mencakup penandatanganan nota kesepahaman, sinkronisasi program kerja, serta pelaksanaan pelatihan bersama yang menyasar kelompok tani milenial. Kegiatan ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga mencerminkan komitmen kuat untuk menyelaraskan kurikulum pendidikan vokasi dengan kebutuhan aktual pertanian di Sumatera Utara.
Direktur Polbangtan menyebutkan bahwa sinergi ini menjadi langkah penting dalam mereformasi sistem pendidikan vokasi pertanian. “Kita butuh petani yang tidak hanya pandai bertani, tetapi juga cakap dalam manajemen, pemasaran, dan adaptif terhadap teknologi. Itulah visi yang kami bangun bersama BP Sumut,” ujar beliau.
Sementara itu, Kepala BP Sumut menambahkan bahwa kolaborasi ini juga membuka ruang untuk penguatan kelembagaan penyuluhan berbasis wilayah. “Dengan keterlibatan langsung Polbangtan, penyuluh kami akan lebih siap menghadapi dinamika pertanian ke depan. Ini penting agar inovasi tidak berhenti di laboratorium, tetapi sampai di tangan petani,” ujarnya.
Sinergi Polbangtan Kementan dengan pendekatan terpadu antara pendidikan dan penyuluhan, diharapkan sinergi ini akan melahirkan ekosistem pertanian yang lebih maju, inklusif, dan berkelanjutan.
Program Pelatihan Dan Pendampingan Petani Muda: Jawaban Tantangan Regenerasi
Program Pelatihan Dan Pendampingan Petani Muda: Jawaban Tantangan Regenerasi adalah program pelatihan dan pendampingan bagi petani muda. Fokus utama dari program ini adalah untuk mengatasi tantangan regenerasi petani, yang selama ini menjadi permasalahan serius dalam pembangunan pertanian nasional. Usia rata-rata petani yang semakin menua serta minat generasi muda yang rendah terhadap sektor pertanian menjadi tantangan besar yang harus segera diatasi.
Melalui program ini, mahasiswa Polbangtan dilibatkan langsung dalam proses pendampingan petani milenial yang tersebar di berbagai daerah di Sumatera Utara. Para mahasiswa tidak hanya mengajarkan teknik bertani yang baik, tetapi juga berbagi pengetahuan tentang penggunaan teknologi, seperti aplikasi pertanian digital, sistem irigasi otomatis, hingga pemanfaatan big data untuk pengambilan keputusan dalam budidaya.
Di sisi lain, BP Sumut menyediakan data dan jaringan kelompok tani yang siap menjadi mitra pelatihan. Kelompok tani ini kemudian dibina secara intensif melalui pendekatan coaching, mentoring, dan inkubasi bisnis. Mereka tidak hanya didorong untuk meningkatkan hasil produksi, tetapi juga dilatih untuk mengelola usaha tani secara profesional, termasuk pencatatan keuangan, pengemasan, branding, dan pemasaran digital.
Salah satu program unggulan yang telah dijalankan adalah pelatihan tematik kewirausahaan tani berbasis komoditas unggulan. Pelatihan ini memberikan materi dari hulu ke hilir—mulai dari pemilihan varietas unggul, pengelolaan input produksi, hingga strategi pemasaran di platform digital seperti e-commerce dan media sosial. Selain itu, peserta juga diberikan akses informasi mengenai Kredit Usaha Rakyat (KUR), bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan), serta akses pasar yang lebih luas.
Program ini mendapatkan respon positif dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, yang melihat inisiatif ini sebagai jalan keluar untuk membangkitkan gairah bertani di kalangan generasi muda. Kepala Dinas Pertanian Sumut menyampaikan bahwa kolaborasi semacam ini adalah bukti bahwa pendidikan dan praktik lapangan harus berjalan seiring. “Kita tidak bisa hanya bicara di ruang kelas, kita harus hadir di lahan, di sawah, dan di tengah masyarakat tani,” ujarnya.
Pengembangan Teaching Factory: Model Edukasi Dan Produksi Berkelanjutan Dari Sinergi Polbangtan Kementan
Pengembangan Teaching Factory: Model Edukasi Dan Produksi Berkelanjutan Dari Sinergi Polbangtan Kementan sebagai pusat edukasi dan produksi berbasis praktik nyata. Konsep TEFA menjadi pilar penting dalam pendidikan vokasi karena menjembatani antara teori dan praktik lapangan. Dalam sinergi ini, TEFA dikembangkan untuk menjadi laboratorium hidup di mana mahasiswa, penyuluh. Dan petani dapat belajar langsung dari proses bisnis pertanian yang sesungguhnya.
TEFA dikembangkan dengan mengadopsi pendekatan integratif antara sektor pertanian, peternakan, dan pengolahan hasil. Beberapa komoditas unggulan Sumatera Utara, seperti kopi arabika, sayuran dataran tinggi, jagung, dan kambing perah, dipilih sebagai fokus produksi. Pengelolaan dilakukan secara profesional dengan menerapkan prinsip good agricultural practices (GAP), biosecurity, serta teknologi informasi untuk manajemen usaha.
Mahasiswa Polbangtan menjadi aktor utama dalam operasional TEFA, mulai dari perencanaan, produksi, hingga pemasaran. Mereka mendapatkan pengalaman nyata mengelola bisnis agribisnis, seperti melakukan pembukuan, menjalin kerja sama dengan offtaker, serta membuat laporan evaluasi berbasis data. Hal ini memberi nilai tambah signifikan dalam proses pembelajaran yang berbasis kompetensi.
TEFA juga dimanfaatkan oleh BP Sumut sebagai tempat pelatihan bagi penyuluh pertanian dan petani setempat. Mereka mendapatkan pelatihan berbasis praktik yang langsung bisa diterapkan di wilayah kerja masing-masing. Dengan demikian, fungsi TEFA bukan hanya sebagai tempat belajar mahasiswa, tetapi juga menjadi pusat inovasi dan diseminasi teknologi pertanian.
Di masa depan, TEFA akan dikembangkan menjadi agropolitan center yang mengintegrasikan fungsi edukasi, produksi, riset, dan pemasaran. Dengan konsep ini, kawasan TEFA bisa menjadi role model bagi pembangunan kawasan pertanian terpadu. Berbasis pendidikan vokasi yang mampu menciptakan nilai tambah tinggi serta memperkuat ketahanan pangan daerah.
Dampak Nyata Di Lapangan: Sinergi Mendorong Kemandirian Pertanian Daerah
Dampak Nyata Di Lapangan: Sinergi Mendorong Kemandirian Pertanian Daerah dirasakan oleh masyarakat pertanian di Sumatera Utara. Di Kabupaten Dairi, misalnya, program pendampingan petani muda berhasil membentuk kelompok tani. Hortikultura digital yang menerapkan aplikasi pertanian cerdas berbasis Internet of Things (IoT). Mereka mampu memantau kondisi tanaman secara real-time dan menyesuaikan kebutuhan pupuk serta air secara efisien.
Di wilayah Tapanuli Selatan, mahasiswa Polbangtan bersama BP Sumut mengembangkan sistem pertanian. Terpadu berbasis pekarangan yang melibatkan ibu rumah tangga dan remaja desa. Program ini tidak hanya meningkatkan ketersediaan pangan lokal, tetapi juga memberikan tambahan penghasilan bagi keluarga petani.
Sementara itu, di Kabupaten Karo, kolaborasi dengan petani kopi lokal berhasil. Meningkatkan mutu hasil panen melalui pelatihan pascapanen dan peningkatan kualitas roasting. Produk kopi dari kelompok ini kini telah menembus pasar nasional dan menjadi bagian dari produk unggulan daerah.
Para penyuluh yang mengikuti pelatihan di TEFA juga merasakan peningkatan kapasitas dalam mendampingi petani. Mereka lebih percaya diri dan inovatif dalam menyampaikan materi, serta mampu memfasilitasi adopsi teknologi di tingkat petani. Hal ini sejalan dengan tujuan reformasi sistem penyuluhan yang dicanangkan oleh Kementerian Pertanian.
Bagi Polbangtan sendiri, sinergi ini memberikan peluang besar untuk memperluas jejaring kemitraan. Meningkatkan kualitas lulusan, serta memperkuat posisi institusi sebagai pusat pengembangan pertanian modern. Di sisi lain, BP Sumut juga mendapatkan manfaat berupa peningkatan kapasitas kelembagaan dan efektivitas program penyuluhan.
Dengan berbagai pencapaian ini, sinergi antara Polbangtan Kementan dan BP Sumut layak dijadikan model kolaborasi. Lintas sektor yang mampu menciptakan transformasi pertanian berbasis SDM unggul, teknologi, dan kewirausahaan. Harapannya, pendekatan seperti ini dapat direplikasi di provinsi lain untuk. Mendorong kemandirian dan ketahanan pangan nasional secara menyeluruh dari Sinergi Polbangtan Kementan.